Saumlaki Series; Keep Strong Old Ship!

Seoongok besi tua dengan wajah lesu itu terus diam dan bersadar dipinggir sebuah dermaga sederhana. Wajahnya sudah tidak mampu lagi memperlihatkan masa kejayaannya. Cat biru dibadan dan cat merah dibagian kakinya sudah mulai memudar. Aroma karat menjadi satu-satunya pengharum yang selalu ia kenakan. Hampir semua bagian yang bercat di tubuhnya sudah hilang tergantikan oleh karat. Luasan penyebaran karat itu sudah tidak terhitung lagi. Setiap sambungan pada tulang belulangnya siap putus termakan oleh asamnya karat yang terus membandel. Continue reading “Saumlaki Series; Keep Strong Old Ship!”

Saumlaki Series; The Man Who Build Phinisi.

Lelaki muda dengan rambut yang terbelah ditengahnya itu sedang asik memainkan pekakas pertukangan yang dibawanya. Sambil duduk ia memahat sebuah kayu tebal yang kemudian ia bentuk menyerupai sebuah lekukan-lakukan simetris. Sesekali ia berhenti untuk mengambil nafas panjang dan mengusap peluh yang sudah mulai menetes dipelipisnya. Palu kayunya sangat berat, besi tempanya sangat tajam. Continue reading “Saumlaki Series; The Man Who Build Phinisi.”

Saumlaki Series; Seaweed and Lermatang Society

Rumput laut dan masyarakat desa lermatang.

“Hancur semua mas, seng ada lagi yang tersisa ee.”

“Harga su turun sekarang mas, seng jelas.”

“Seng ada bibit mas, katong cari yang cepat sa.”

“Disini seng bisa mas kerja kelompok.”

“Susah mas.”

“Seng bisa mas.”

“Seng tau mas.”

“4000 mas.”

“Satu karung satu juta mas.”

“Pasir su paling cepat mas.”

“500 ribu satu rit mas.” Continue reading “Saumlaki Series; Seaweed and Lermatang Society”

Saumlaki Series; The Potential of Lermatang Village.

Potensi desa lematang 

Jalanan berbatu nan panas itu tidak menyurutkan perjalananku untuk sampai di sebuah desa yang lokasinya berjarak 25 kilometer dari pusat kota Sumlaki. Beruntung, pembangunan akses jalan sedang dikerjakan sehingga beberapa ruas jalan sudah mulai terasa nyaman. Continue reading “Saumlaki Series; The Potential of Lermatang Village.”

Saumlaki Series; The Story of a War Veteran

Wajah tuanya terlihat kosong. Tatapan matanya seakan hampa. Ia duduk di sebuah bangku plastik dan sedang asik berbincang dengan seorang bapak yang juga duduk bersama disampingnya. Pelafalan kalimatnya sudah tidak lancar, terbata-bata, seakan sudah tidak mampu lagi bersuara. Nada suaranya sangat pelan sehingga aku harus mendekatkan telingaku ketika memulai mengajaknya berbincang. Continue reading “Saumlaki Series; The Story of a War Veteran”

Saumlaki Series; Best Place to See a Sunset

Sore itu, adalah kali ketujuh aku mendatangi sebuah dermaga rusak yang ada tepat diujung di pasar omele. Pencarianku terhadap tempat terbaik untuk menikmati momen tenggelamnya matahari di ufuk barat masih belum selesai. Beberapa kali aku berjalan mengelilingi kota saumlaki, namun aku masih belum bisa menemukan tempat yang paling menarik untuk menikmati momen tersebut. Jika dilihat di peta, letak kota Saumlaki tepat berada ditengah teluk paling selatan pulau Yamdena. Continue reading “Saumlaki Series; Best Place to See a Sunset”

Saumlaki Series; Lermatang Mayor and His Matakau

Sore hari aku sengaja berkunjung ke desa lermatang untuk bertemu dengan bapak kepala desa. Niat awalku bertemu dengannya adalah untuk melakukan kordinasi terkait dengan program pemberdayaan masyarakat rumput laut yang ada di desanya. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan beliau. Beberapa kali aku berjumpa di kediaman ataupun di kebun miliknya. Seperti hari ini, aku menemui beliau di kebun miliknya yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari tempat kediamannya.Saat aku datang, pak desa masih sibuk dengan pekerjaannya. Continue reading “Saumlaki Series; Lermatang Mayor and His Matakau”

Saumlaki Series; Beach And Our Soccer

Bola dan Pantai
Dengan semangat mereka semua berlarian kesana kemari. Panasnya cuaca pantai saat itu tidak menyurutkan mereka untuk mencoba menjebol gawang lawan di depannya. Bola yang mereka tendang beberapa kali meleset dari sasaran karena kencangnya hembusan angin pantai. Teriakan seorang anak yang mengeluh karena tidak mendapatkan kesempatan menendang si benda bundar itu terdengar sangat jelas ditelingaku. “Oper par beta! Aaahh” Keluhnya. Continue reading “Saumlaki Series; Beach And Our Soccer”

Saumlaki Series; Society And Their Aid’s

Masyarakat dan bantuan

Perkenalanku dengan masyarakat desa yang akan aku dampingi rasanya tidak mendapatkan masalah yang berarti. Sebagai pendatang baru disebuah desa yang memiliki kultur dan budaya yang berbeda, diterima dengan baik merupakan suatu pengalaman yang tidak ternilai buatku. Aku datang dengan mambawa kental unsur peranakan sunda. Aku lahir di tanah Jawa, dan harus beradaptasi dengan masyarakat di timur Indonesia. Dari segi budaya perbedaannya sudah sangat mencolok. Continue reading “Saumlaki Series; Society And Their Aid’s”