Saumlaki Series; Beautiful Empty Island, Nustubung.

Tek keteeekk keteekk keteekkk…. Siang itu alunan nada mesin ketinting mulai terdengar. Jam masih menujukan pukul 12.00 WIT, para nelayan mulai berdatangan ke pantai desa lermatang seusai menjual hasil tangkapannya di kota saumlaki. aku dan seorang kawanku memang sengaja datang untuk menagih janji bapak kepala urusan umum desa untuk berwisata ke pulau kosong yang ada di depan desa. Continue reading “Saumlaki Series; Beautiful Empty Island, Nustubung.”

Saumlaki Series; Social Engagement

Social Engagment

Bangun pagi menjadi sebuah keharusan untuk memulai semua aktifitasku di kota para pendatang ini. Dengan zona waktu WIT (waktu Indonesia bagian timur) semua terasa lebih cepat dari waktu di Jakarta. Dunia seakan berputar dua jam lebih maju dari sebelumnya, sehingga jika tubuhku masih akrab dengan waktu Jakarta, aku akan banyak terlambat di kota ini. pada akhirnya aku harus kembali membiasakan diri dan tubuhku untuk mulai berkenalan dengan waktu di kota ini. Kesalahan fatal aku lakukan untuk pertama kalinya. Ini ada kaitannya dengan alarm yang aku hidupkan. Aku lupa mengganti zona waktu di Handphoneku, sehingga saat aku menset alarm pukul 05.00, justru dia akan menyala pada pukul 07.00 WIT. Aku kemudian harus berhadapan dengan sinar matahari yang cahayanya sudah sangat terang sekali. Bablas. Continue reading “Saumlaki Series; Social Engagement”

Cycling in the city of Bandung

City tour in bandung city

Hari raya idul fitri sudah usai. Pesta ketupat serta perang opor pun otomatis sudah tinggal menyisakan sisa-sisanya saja. Jalanan yang masih sepi, serta cuaca kota yang bersahabat aku gunakan untuk berkeliling seisi kota dengan menggunakan sepeda kesayanganku yang sudah tebal dengan debu. Seperti biasa, tidak ada sedikitpun niat yang muncul dalam diri untuk melakukan perjalanan bersepeda tersebut. melihat kondisi sepeda yang sudah berdebu dan tidak terawat ditambah rodanya yang sudah gembos sebenarnya membuatku malas untuk menunganginya. Akan tetapi, aku sudah lama tidak berolah raga, jadi alangkah baiknya jika kesempatan hari itu aku pergunakan untuk mengolah ragaku selagi jalanan masih sangat mendukung. Continue reading “Cycling in the city of Bandung”

Flash Journey: Pawon Cave, Prehistorical Site

Cuaca sore hari yang masih bersahabat membawa perjalananku dengan seorang sahabat terdekatku berlanjut. Kali ini, motor melaju kebagian yang lebih barat dari taman wisata batu peninggalan jaman prasejarah; Stone Garden. Teriknya pancaran sinar matahari tidak membuat kami takut untuk melanjutkan ekprolasi. Juru parkir yang kami temui memberikan sedikit petunjuk mengenai tempat yang akan kami tuju. Menurutnya, patokan sebuah rumah makan disamping jalan besar dan sebuah gapura besar bertuliskan nama lokasi bertengger sangat jelas disamping jalan utama. Setelah helm dipakai, kami siap meninggalkan taman wisata yang sempat booming diawal tahun 2015 tersebut. Continue reading “Flash Journey: Pawon Cave, Prehistorical Site”

Flash Journey: Eksotism Stone Garden, Pasir Pawon.

Liburan dadakan mungkin bukan hal yang baru bagiku. Rasanya, hampir semua detinasi wisata yang aku kunjungi tak lapas dari kata tersebut. Pun demikian dengan pertualanganku ke sebuah taman wisata situs prasejarah berupa bebatuan kars yang terletak di daerah Kabupaten Bandung Barat. Semula, aku hanya berencana untuk mencari sebuah vaksin pencegahan rabies yang dianjurkan oleh tempatku bekerja sebagai antisipasi saat kembali bertugas ke lapangan. Continue reading “Flash Journey: Eksotism Stone Garden, Pasir Pawon.”

Gojek oh Gojek

Gojek oh Gojek

Sejujurnya, ini adalah ceritaku yang entah kenapa mulai sangat bergatung sekali dengan moda transportasi online ini, khususnya di kota Jakarta. Selama empat hari kebelakang, aku tinggal di Jakarta, hanya gojek satu-satunya sarana transportasi yang aku andalkan. Bagaimana tidak, dengan adanya fitur go-pay yang memberikan diskon setiap kali transaksi dan juga mitranya yang sangat banyak benar-benar sangat memudahkanku untuk berpergian kemanapun di Kota Besar ini. Continue reading “Gojek oh Gojek”

Exploring Culinary at Square of Batu City

Berjalan kaki mengelilingi Kota Batu buatku memiliki kesenangan tersendiri. Bagaimana tidak, kota yang letaknya berada diperbukitan itu memiliki suhu yang sejuk, sehingga meskipun matahari sudah berada tepat diatas kepala, aku tetap tidak merasakan hawa panas sedikitpun. Berbekal flannel dibadan, sore itu aku turun dari kantor perintahan kota batu menuju alun-alun kota. Jaraknya tidak begitu jauh. Bila menggunakan kendaraan pribadi, dapat ditempuh dalam waktu 5 menit, sedangkan jika berjalan kaki, hanya ditempuh dalam waktu kurang lebih 20 menit. Karena aku rasa hari masih belum terlalu malam dan suhu yang lumayan dingin, aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Continue reading “Exploring Culinary at Square of Batu City”